TEKOA MINISTRY

Selasa, 15 Maret 2022

Telaah Kritis Atas Perkembangan Pemikiran Teologis Masa Kini “Teologi Trinitarian”

 


 

Dr. Soneta Sangsurya Siahaan, S.E.,M.Th


 

 Pendahuluan

            Teologi berkembang dari waktu ke waktu, hingga abad ke 20 dan awal abad ke-21, dan kita menyebutnya sebagai Teologi-Teologi Kontemporer. Ada beberapa pengertian atas istilah Teologi Kontemporer sinonim dengan Teologi Postmodern (*Eta Linnemann, Teologi Kontemporer: Ilmu atau praduga), 1991. Linnemann mengidentikkan Teologi Kontemporer dengan Teologi Historis-Kritis dan Teologi Modern, sedangkan Harvie E.Conn, Teologia Kontemporer (terj) memasukkan sejumlah teologi antara lain Neo-Ortodoksi, Metode Rudolf Bultmann, Teologi Sekularisasi, Teologi Pengharapan, Teologi Proses, sampai Neo-Evangelisme, ke dalam rumpun Teologi Kontemporer.

            Apa yang dimaksud dengan Teologi Modern? Dalam buku The Blacwell Companion to Modern Theology (2007) Gareth Jones tiba pada kesimpulan:”modern Theology begins when theologians look beyond the Church for answer of their question and when new challenges rose to make people think about their faith with renewed urgency”. Sementara itu, J.C.Livingston berpendapat bahwa sejarah pemikiran Kristen modern bermula dengan gerakan-gerakan intelektual dan sosial revolusioner pada abad ke-18 dan 19. Pengaruh kemajuan di bidang iptek, filsafat, dan penelitian historis atas kekristenan di sepanjang kedua abad ini sangat kuat dan berlanjut.

            Tokoh-tokoh Teologi Modern ini antara lain Immanuel Kant, D.F.Strauss, J.Voltaire, J.J.Rousseau, F.D.E. Schliermacher, Albrecht Ritschl, Adolf von Harnack, dan Soren Kierkegaard. Kita akan melihat satu topik dalam pembuatan makalah ini, yaitu perkembangan dari Teologi Trinitarian di masa kini.

Pembahasan

            Istilah Trinitas merupakan kreativitas berteologi Bapa-Bapa Gereja dalam memahami relasi ketiga nama itu. Tertullianus (169-220) yang merumuskan iman sejati akan Allah Trinitas:”una substantia, tres personae; satu substansi, tiga pribadi (Boff 2004, 55). Hal ini mengacu kepada relasi Allah ke dalam (ad intra) tiga pribadi itu. Gereja (orang Kristen) telah terlebih dahulu mempraktikkan pemahaman mereka tentang Allah Tritunggal dalam liturgi-liturgi, barulah kemudian merumuskannya dalam ajaran-ajaran itu. Meminjam kata Anselmus, fides quarens intellectum, kita dapat mengatakan bahwa gereja berusaha menjelaskan Allah Tritunggal sesuai dengan kebutuhan sejarahnya, berdasarkan pada apa yang mereka percayai, bukan pada apa yang mereka pikirkan. Pergumulan utama dalam hal ini adalah bagaimana menalarkan hakikat Allah yang sedemikian itu dengan penuh tanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mencegah munculnya ajaran sesat.

            Dalam hal ini iman mereka mendahului penalaran mereka. Leonado Boff, dalam buku Allah Persekutuan: Ajaran tentang Allah Tritunggal (2004),”rumusan paling klasik adalah satu Allah dalam tiga pribadi, atau satu kodrat tiga rupa, atau Tiga Pribadi yang mencintai dan satu Cinta, atau tiga Subjek satu Substansi, atau tiga Kenyataan satu persekutuan” (Boff 2004,vii-viii). Rumusan-rumusan seperti ini menurut Boff tidak lain merupakan wujud doksologi yang kemudian berubah menjadi refleksi (teologi) mereka tentang hakikat Allah. Allah yang tiga tetapi tidak terceraikan dan juga tidak bisa dileburkan menjadi satu. Jadi, refleksi ini berawal dari ke-tiga-an bukan ke-satu-an.

            Percakapan tentang teologi Trinitarian ini tidak mendapat porsi yang sama dalam wacana teologis setiap abad. Salah satu Teologi Modern abad ke-19, Friedrich Schliermacher (1768-1834), memandang bahwa Teologi Trinitarian hanya merupakan apendiks dalam pemikiran teologi (Marshall, 2004, 184). Percakapan itu menjadi lebih bergairah lagi setelah Karl Barth dari kalangan Protestan dan Karl Rahner dari kalangan Katolik menekankan kembali Trinitarian yang esensial dalam bangunan teologi mereka, dalam memaknai relasi Allah ke dalam (ad intra) maupun ke luar (ad extra), yang kita kenal sebagai Tritunggal imanen dan Tritunggal ekonomis (Karkkainen 2013, 8).

            Tritunggal imanen menunjuk kepada relasi di dalam ketiga Pribadi Allah itu sendiri; Tritunggal ekonomis menandakan bahwa Allah Tritunggal itu aktif dan menyatakan diri dalam penciptaan, penebusan dan penyempurnaan (eskatologi). Percakapan tentang Allah Trinitarian pada awal abad ke-21 ini semakin bersemi dalam perbendaharaan teologi lintas disiplin, seperti sistematika, teologi agama-agama, dan praktika. Hal ini terkait dengan dua hal sbb :

Ø  Upaya menemukan makna Trinitas dalam sejarah dan relasinya dengan doktrin Kristen yang lainnya.

Ø  Untuk menggali nilai normative baru, yang bisa menjadi dasar mengonstruksi teologi yang berwibawa (bahkan melahirkan kanon baru dalam konstruksi Trinitarian).

Leonardo Boff, dalam bukunya Allah Persekutuan (2004) memaparkan Teologi Trinitarian dalam menjawab penindasan kemanusiaan di Amerika Latin. Ia melukiskan betapa pentingnya Allah itu adalah Allah Tritunggal. Allah Tritunggal berarti tiga ketunggalan dipersatukan, berbeda dari Allah yang Esa yang akan dilanda kesepian. Kalau Allah Bapa saja yang ditonjolkan, seperti yang ditekankan teolog-teolog Yunani, maka muncullah risiko teogoni, proses Allah dijadikan. Hal ini akan menguatkan paham tentang pentingnya hierarki, yang sudah sangat lazim ditekankan dalam model masyarakat Amerika Latin. Teologi Latin menekankan bahwa Allah adalah roh yang absolute yang berpikir dan mencintai; pengenalan diri yang paling tinggi disebut Putera, sedangkan cinta yang tak terbatas disebut Roh Kudus. Ini juga belum bebas dari hierarki, sebab Putera saja yang mampu mempersatukan Allah dengan Roh Kudus (Boff 2004,x-xi).

      Boff mengusulkan, pemahaman yang lebih sesuai dengan kitab suci yang memberitakan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Untuk itu, ia mengulang-ulang kata perichoresis dari perbendaharaan teologi abad ke-6. Boff memahami bahwa dalam perikhoresis “setiap Pribadi mengandung Kedua Pribadi yang lain, setiap Pribadi meresapi yang lain, satu tinggal di dalam yang lain dan sebaliknya” (Boff 2004,xii). Ia mengingatkan supaya persekutuan seperti ini dipahami dalam keabadian, bukan masing-masing sudah ada, lalu kemudian memasuki persekutuan. “Persekutuan perokhoresis ini membuka dirinya keluar, mengundang makhluk dan universum untuk menautkan diri dengan kehidupan ilahi” (Boff 2004,xiii).

      Tentang relevansi Trinitarian dalam konteks Amerika Latin, ia berkata :

·       Pemahaman demikian tentang misteri Trinitas Mahakudus sangat relevan bagi bagi pengalaman iman dalam konteks penindasan dan kerinduan akan pembebasan. Mereka yang tertindas berjuang agar dapat mengambil bagian dan turut menentukan dalam segala bidang kehidupan, berjuang untuk keadilan dan persamaan, sambil tetap menghargai perbedaan setiap pribadi dan kelompok; mereka menginginkan suatu persekutuan dengan kebudayaan dan nilai-nilai lain, persekutuan dengan Allah yang adalah mahkota sejarah dan makna terdalam dalam hati mereka. Bagi kaum tertindas, yang memiliki iman, persekutuan Tritunggal antara Tiga Pribadi itu, kesatuan antara mereka dalam cinta, di dalamnya mereka saling meresapi, dapat menjadi sumber utopi yang menggairahkan, sebagai model yang secara bertahap mengintegrasikan berbagai perbedaan. (Boff 2004,xiv)

Konstruksi Leonardo Boff ini memperlihatkan bahwa Teologi Trinitarian melampaui sekadar prinsip Trinitarian ekonomis dan Trinitarian imanen yang dikembangkan di Timur dan Barat. Konteks pergumulan Amerika Latin, yang cenderung terperangkap dalam hierarki masyarakat yang menindas, melahirkan makna Trinitarian keikutsertaan. Ini bukan hanya sekadar ajaran Teologi Sistematika, tetapi juga sebuah loncatan ke Teologi Praktika. Stempel Trinitarian telah mewarnai perbendaharaan ilmu teologi.

            Trinitarian keikutsertaan ini dijabarkan Boff sebagai basis pembebasan sosial yang integral dalam tiga kata kunci: kehidupan, persekutuan, dan perikhoresis. Kata kunci kehidupan memperlihatkan bahwa Allah adalah Hidup dan sumber kehidupan. “Pengejawantahan kehidupan manusia yang paling tinggi dilukiskan sebagai pengambilan bagian dalam kehidupan ilahi. (Boff.2004, 138).

            Karena kehidupan itu merupakan kodrat Allah sendiri, maka hidup itu sendiri merupakan hadiah tertinggi dari Allah yang diberi kepada manusia. Oleh sebab itu, definisi kehidupan harus terus dikaji, bahwa hidup itu bersifat organism, memiliki dinamika, keseluruhannya rapid an indah, dan bereproduksi. Kata kunci persekutuan berarti bahwa manusia hidup karena persekutuan dengan Allah, maka ia juga berada dalam dirinya untuk orang lain. Kata kunci perikhoresis adalah persekutuan saling meresapi, saling menganyam, jalin menjalin, dan saling menerobos, dinamika inilah yang membuat perbedaan menjadi kesatuan. (Boff 2004, 138-43, 154).

Teologi Agama-Agama

            Teologi agama-agama kelihatannya memiliki perkembangan yang luar biasa dalam menyikapi pluralism dan konflik antar agama. Kita akan melihat dua contoh teolog yang mengembangkan Teologi Trinitarian dalam locus pluralism beragama. Pertama, Veli-Matti Karkkainen dalam bukunya Tritunggal dan Pluralisme Agama (2013, terjemahan dari edisi Inggris yang terbit 2004). Kedua, Joas Asiprasetya dalam bukunya An Imaginative Glimpse: The Trinity and Multiple Religious Participations (2013). Buku yang pertama memperlihatkan survey teologi Trinitarian tentang tantangan pluralism beragama yang mengedepankan dialog dalam keunikan iman yang Trinitarian, dan buku kedua merupakan konstruksi imaginative Teologi Trinitarian (perikhoresis) dalam menyikapi pluralism (multiple) beragama.

Keunikan Iman Trinitarian

            Karkkainen (2013, 1-3) melihat, ada kesejajaran antara perkembangan pemahaman Teologi Trinitarian dan Teologi Agama-Agama yang dikembangkan oleh orang-orang Kristen sejak abad ke-20, yakni membicarakan eksistensi Allah, mengidentifikasi Allah Alkitab. Keduanya selama sepuluh tahun tidak saling bertemu dalam satu jalan. Oleh itulah dia membuat survey terhadap pemahaman-pemahaman para teolog dari berbagai benua, denominasi gereja yang mempercakapkan dialog yang melampaui kanon Teologi Agama-Agama yang sudah berkembang dalam tipologi rangkap tiga : eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme.

            Afirmasi dialog Kristen bagi Karkkainen bertolak dari pemahaman Karl barth tentang doktrin Trinitas. Ada dua prinsip penting tentang Trinitarian dalam hal ini:”pertama, Barth membuat doktrin Trinitas sebagai prinsip penstrukturan dalam teologinya; Kedua, ia menegaskan bahwa apa yang terjadi dalam sejarah terkait dengan apa yang terjadi di dalam diri Allah Trinitas; dengan demikian, sejarah dihubungkan kepada keilahian. (Karkkainen 2013, 7).

            Dari semua teolog yang ia seleksi untuk tujuan penulisan bukunya menuju satu Teologi Trinitas tentang agama-agama, ternyata ia membingkainya dalam dua hal: Pertama, bahwa iman Trinitarian memiliki potensi dan fungsi kritis dalam dialog dengan agama-agama lain. Dalam hal ini ia mengutip pandangan Karl Rahner tentang Tritunggal dan kekristenan anonim. Sudah sangat umum kita kenal pandangan Rahner yang bertolak dari kehadiran Allah dalam pengalaman manusia ini, bahwa secara antropologis-teologis manusia memiliki potensi dalam dirinya untuk mengenal Allah (Karkkainen 2013, 51). Allah telah menyatakan diri-Nya kepada setiap manusia melalui pengalaman dan keseharian mereka. Kekuatan universalisme Rahner ini mendorong berkembangnya teologi agama-agama yang bersifat spiritual (Karkkainen 2013, 62). Kedua, iman Trinitarian sebagai klaim persetujuan terhadap pluralism. Pada bingkai kedua ini ia memunculkan pandangan John Hick, Raimundo Panikkar, dan S.Mark Heim.

            Karkkainen menyimpulkan bahwa pluralisme harus dilampaui melalui teologi Trinitarian Kristen, Selanjutnya ia menulis sebagai berikut :

Ø  Teologi Trinataris Kristen yang memperlakukan umat berkeyakinan lain dengan serius dan terlibat di dalam sesuah dialog yang bermakna, menghargai sejarah dan perbedaan, mempunyai potensi untuk bergerak melampaui sebuah ekslusivisme yang berkata tidak kepada dialog tanpa terlibat di dalam dialog dan bergerak melampaui pluralism yang cenderung menyangkali hak umat berkeyakinan lain untuk berbeda. Untuk memajukan doktrin Tritunggal klasik, kalim-klaim kebenaran dari agama-agama harus diberi kesempatan penuh untuk di dengar. Agama-agama termasuk Kristen, secara dasariah mengeluarkan klaim-klaim kebenaran dengan sebuah orientasi universal. (Klarkkainen 2013, 275)

Doktrin Perikhoresis Membangun Teologi Agama-Agama Yang Lebih Konstruktif

            Joas Adiprasetya dalam bukunya (2013) mengembangkan salah satu aspek doktrin Trinitarian, yakni perokhoresis yang diaplikasikan dalam pluralitas agama. Tentang perikhoresis ini Adiprasetya menjelaskan:”the worl perichoresis refers to the mutual indwelling or coinherence of two or more persons (in the Trinity) our natures (in the person of Christ) or beings (in the case of God-World relationship), where each interpenetrates the others without confusions, separation, or division” (Adiprasetya 2013,1).

            Dalam kekayaan pengertian seperti ini, konsep Trinitarian sudah melampaui pemahaman ekonomis maupun imanen (2013,81). Dari penelitiannya, ternyata konsep ini termuat juga dalam agama-agama yang lain yang dapat membangun kekayaan dalam berteologi. Konsep ini lebih lanjut dikembangkan secara imaginative ke dalam empat dimensi, sebagai berikut :

1.     Realitas yang mempersatukan (unity of Reality); menurut kajian Adiprasetya konsep perikhoresis membuat hal yang berbeda-beda itu menjadi dua atau tiga, tetapi memiliki prinsip menjadi satu tetapi bukan monism.

2.     Dimensi khora, yakni gerakan tarian perokhoresis itu harus mengambil ruang, khora. Pengakuan ruang ini dalam pertemuan dengan agama-agama lain bukan sekadar membangun ruang bersama tempat untuk berkreasi, tetapi lebih dari itu; misalnya umat Kristiani dapat semakin kaya untuk memaknai arti kekosongan melalui agama Buddha.

3.     Relasi personal, dimensi ini membukakan suatu relita bahwa relasi tidak mengakibatkan seseorang kehilangan personalitasnya. Setiap orang diterima untuk memperkaya relasi itu sendiri.

4.     The possible, dimensi ini merupakan keunikan di Indonesia. Pemerintah dapat menentukan 5 kemudian 6 agama resmi dan yang lain digolongkan ke dalam penganut kepercayaan yang lain. Hal ini membuka kemungkinan kedepan bentuk perikhoresis yang baru dengan ratusan agama-agama suku di Indonesia (Adiprasetya 2013, 166-73).

Teologi Pastoral

            Teologi Pastoral merupakan teologi relasi membuka kecendrungan baru untuk menambahkan kanon baru dalam berteologi dalam pelayanan pastoral. Teologi Pastoral tidak lain merupakan refleksi terhadap kepedulian Allah dan gereja terhadap umat dalam waktu dan ruang tertentu. Oleh karena itu, semakin terasa bahwa lensa Trinitarian dibutuhkan untuk memperkaya konstruksi dalam berpastoral. Teologi Pastoral menemukan paradigma baru dalam berelasi seturut dengan hakikat manusia yang utuh. Berikut ini, digambarkan dua pemikiran Teolog Pastoral yang mendekati kanon teologinya dengan Trinitarian.

            Pertama, teolog Australia, Neil Pembroke, dalam bukunya, Renewing Pastoral Practise: Trinitarian Perpective on Pastoral Care and Counseling (2006). Kedua, teolog feminis Amerika Utara, Pamela Cooper-White, dalam bukunya Braided Selves: Collected Essay on Muliplicity, God, and Person (2011).

Pandangan Relasi Pastoral dam Kerangka Trinitarian

            Pembroke (2006, 2) memahami stempel Trinitarian dalam kanon teologi Pastoralnya dari doktrin perikhoresis (Allah sebagai komunitas) yang ditandai dengan dua hal:

1.     Relasi sebagai ruang. Dalam hal ini meneladani relasi Allah Trinitarian, dimana ada closeness and open space. Setiap pribadi tinggal dengan yang lainnya di dalam kasih, tetapi kalau kita lalai untuk membedakannya, maka kekayaan Trinitariannya akan hilang, dan hal ini akan membuat percakapan pastoral menjadi searah tanpa dialog. Kejadian ini akan mengembalikan dominasi pastoral kepada kemauan sang pastor yang sangat mungkin melahirkan pelayanan pastoral yang bersifat otoritatif.

2.     Hakikat pelayanan pastoral ialah polyphony, istilah music yang menggambarkan nyanyian atau bunyi alat musik dua atau lebih yang memainkan melodi secara simultan dan teratur. Dalam hal ini, perbedaan justru memperindah kesatuan, bukan menjadi hambatan. Dinamika polyphonic terlihat dalam ketegangan antara hikmat dan kebodohan, persekutuan, kedekatan, dan keberjarakan. Intinya, dalam dinamika polyfonik itu dinamika pastoral turut mendengarkan suara the other, suara Allah yang hadir dalam Roh-Nya. Hal ini merupakan suatu jaminan bahwa pelayanan pastoral akan mengalirkan air yang hidup ke tengah persoalan-persoalan kemanusiaan di dunia ini.

Penguatan pelayanan pastoral yang Trinitarian memperlihatkan relasi pastoral dalam komunitas yang komunikatif. Hal ini membarui pendekatan pelayanan Pastoral Barat yang cenderung bersifat individual dan sekadar mencari solusi yang parsial. Trinitarian merupakan praktik pastoral yang ideal dan lebih utuh.

            Dinamika Trinitarian yang perikhoretik merupakan cerminan persekutuan dalam pelayanan pastoral dan lagi pula kehadiran Allah dalam persekutuan itu membawa hilmat dalam pelayanan Pastoral (Pembroke 2006,10). Dengan begitu, Teologi Pastoral tidak semata-mata mengandalkan psikologis atau antropologis.

 

Multiplisitas Dalam Diri Allah Dan Diri Manusia

            Premis utama dalam buku Pamela Cooper-White adalah : baik Allah maupun manusia keduanya multiple (Cooper-White 2011,2). Premis ini hendak memperlengkapi teologi Pastoral untuk memahami diri Allah dan diri manusia dan hubungan keduanya dalam proses pastoral. Cooper-White berkata :

ü  If we are willing to explore these multifaceted efforts towards a multiple concept of God, and corollary construction of mutual, co-constructive, co-generative yearning between humands and the divine, then we are led to a pastoral construction of human beings, consciousness, and its construction in mutual relations (potentially resonating with a variety of faith traditions, not just orthodox Christianity), and to an human persons as underpinning all relational approaches to pastoral praxis – through the spectrum of care. Counseling and psychotherapy (Cooper – White 2011, 123).

 

Berdasarkan penalaran tersebut diatas, maka dia mengontruksi Teologi Pastoral Trinitarian sebagai berikut : Pertama, Allah sebagai Yang Berkelimpahan Kreativitas (God as Creative Profusion). Salah satu warisan iman yang sangat kuat adalah bahwa Allah dikenal sebagai Pencipta langit dan bumi beserta isinya. Pemahaman seperti ini sesungguhnya harusnya lebih dalam lagi, yaitu bahwa Allah berkelimpahan dalam kreativitas-Nya. Gambar Allah sesungguhnya kreativitas yang tidak terbatas. Dia menciptakan dalam ke-Mahakuasaan-Nya, langit dan bumi ini dijadikan dalam supernatural-Nya.

Kalau Allah pencipta kita sebut Bapa, maka sesunguhnya Dia berkenan menerima, mengonfirmasi, dan mencintai kita dalam kompeksitas dan kontradiksi yang ada dalam diri kita. Teologi seperti ini memiliki resonansi bahwa manusia tidak ditolak – walaupun dalam pribadinya ada kekacauan, multiple – kedalamk proses kasih (tidak memisahkan manusia karena ia ada dalam suasana chaos) dan senantiasa mengasihi dia. Dalam kepedulian Allah inilah dibangun teologi pastoral (Cooper-White 2011, 125-6).

Kedua, Allah yang memiliki hasrat untuk berinkarnasi (God as Incarnational Desire). Allah yang berinkarnasi adalah Allah yang memilih dengan sengaja untuk mengasihi manusia. Itulah yang menjadi kehendak-Nya. Allah adalah kasih, kuasa yang erotic terhadap kehidupan yang terpecah dan memerintahkan kebaruan, perubahan, dan pertumbuhan (Cooper-White 2011,126). Untuk itulah kita mengenal ungkapan “Imanuel”, Allah beserta kita. Dia bukan di atas kita tetapi turut masuk ke dalam seluruh daging, darah, dan tulang-tulang kita tiap-tiap hari. Inilah inkarnasi yang ajaib, bukan sekadar Allah memilih menubuh menjadi manusia, tetapi lewat penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya Ia menjanjikan hidup yang transformatif dari kematian kepada kehidupan baru.

Ketiga, Allah sebagai inspirasi yang Hidup (God as Living Inspiration). Dimensi ketiga dari Allah Tritunggal ialah Roh Kudus yang dapat dikatakan Napas yang Kudus. Allah adalah pengatur ritme napas manusia. Oleh karena itu, dalam Alkitab ini sering digambarkan dengan berbeda-beda; napas, kuasa, energy, dan angin (Cooper-White 2011, 129). Bagi Cooper-White, hal ini tidak terjadi secara kebetulan, sebab ketenangan dalam berdoa adalah ketika kita mengatur ritme napas kita. Dalam doa yang kita yakini Allah hadir, turut peduli, dan mau bertindak dalam kehidupan kita.

Mengatur ritme napas dalam doa itu berarti kita tidak sendiri lagi, Cooper-White memberi istilah ec-static (keluar dari tempat kita berdiri), keluar dari diri kita untuk orang lain.”Kita tidak dapat hidup untuk diri kita sendiri, melainkan di dalam dan untuk orang lain, ketika Roh mengaliri sekitar dan keseluruhan kita dan seluruh kehidupan kita menjadi satu tarian yang besar – dan tarian yang besar itu terjadi ketika kita berbelarasa terhadap kosmos.” (Cooper-White 2011, 130).

Percakapan tentang Teologi Trinitarian dalam tatanan umat kelihatannya masih berkutat dalam apologetika terhadap jati diri Allah sebagai Allah monoteis. Oleh karena itu, Trinitas yang berkembang masih pada tingkat pemuasan akal, belum kepada pengembangan Teologi Trinitarian yang berjalan bersama sejarah.

            Kelihatannya kata Yunani perichoresis, yang sudah masuk dalam perbendaharaan Trinitarian sejak zaman Bapa-Bapa Gereja, kini menjadi koin yang laris dalam mengembangkan loci theologicy. Koin itu menarik untuk dipercakapkan dalam kehidupan dan pergumulan gereja masa kini. Poin perikhoresis adalah sebuah lensa teologi yang sangat menekankan relasi, sehingga dapat membuka pintu dalam persoalan kemanusiaan yang makin pelik. Dalam sebuah video di Youtube, Paul Lim, seorang teolog Asia – Amerika dari Vanderbilt University tahun 2014, memberikan ceramah di Cornell University dengan judul “(Divine) Trinity and (Human) Trafficking”; disitu ia mengulas bahwa relasi yang bertanggung jawab dalam Trinitarian merupakan cerminan relasi manusia dalam mengatasi perdagangan manusia.

Kesimpulan

            Jadi Trinitarian merupakan Allah yang satu dan pribadi ini tidak membagi Allah seperti menjadi sepertiga bagian, akan tetapi merupakan seluruhnya atau sepenuhnya. Bapa merupakan sama seperti Putera, dan Putera sama seperti Bapa dan Bapa serta Putera merupakan sama seperti Roh Kudus yakni satu Allah pada kodrat yang sama. Dengan kestuan ini, maka Bapa sepenuhnya ada dalam Putera dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus. Putera sepenuhnya dalam Bapa dan sepenuhnya dalam Roh Kudus. Roh Kudus sepenuhnya ada dalam Bapa dan sepenuhnya dalam Putera.

            Tiga pribadi ini berbeda secara nyata yakni dalam hubungan asalnya. Allah Bapa “melahirkan” Allah Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan. Tiga pribadi ini saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain dan perbedaan dalam asal ini tidak memisahkan kesatuan ilahi, akan tetapi memperlihatkan hubungan saling timbal balik diantara pribadi Allah tersebut. Bapa berhubungan dengan Putera, Putera dengan Bapa dan Roh Kudus dengan keduanya dan hakikat ini adalah satu yakni Allah.

            Dengan kasih-Nya yang sempurna tersebut dalam kehidupan Trinitarian Maha Kudus, Allah merangkul kita supaya menanggapi panggilan-Nya dan dengan persatuan Allah maka kita sudah mencapai puncak kehidupan spiritual dimana kita sudah dimampukan oleh Allah untuk mengasihi-Nya dan juga sesama.

 

Pustaka

Boff, Leonardo, 2004. Allah Persekutuan: Ajaran tentang Allah Tritunggal (terj.), Maumere: Ledalero.

Adiprasetya, Joas. 2013. An Imaginative Glimpse: The Trinity and multiple religious participations. Eugene : Pickwick Publications.

Cooper-White, Pamela. 2011. Braided Selves – Collected essay in Multiplicity, God and person. Eugena, Oregon: Casade Books

Karkkainen,. 2013. Tritunggal dan Pluralisme Agama. Doktrin Tritunggal dalam teologi Kristen tentang agama-agama (terj.) Jakarta, BPK Gunung Mulia

 

*****


Selasa, 25 Januari 2022

Hikmat Yang Membawa Kemenangan

Yakobus 1:5

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.










Teologi Feminis

 




Pengantar

Dalam perkembangannya di dalam Teologi kontemporer, baru lahir pada tahun 2019 di suatu negara Swiss. Perintisnya adalah Karl Barth (1886-1968). Dan titik balik atau manifestasi dari teologi kontemporer ini, muncul lewat tafsiran Karl Barth dalam surat Roma pada tahun 1919. Perubahan arus teologia ini merupakan bagian dari lautan yang lebih luas, bahwa ada perbedaan dimana teologi “modern” dengan teologi “kontemporer” kadang-kadang sedikit sekali dan lebih merupakan tekanan yang berbeda-beda yang sesungguhnya berdasarkan pada pra-anggapan yang sama.

              Para teolog-teolog modern akan mengatakan bahwa walaupun sejarah yang tercantum dalam kekristenan, baik banyak maupun sedikit tidak dapat diterima, namun ajaran Kristen, baik banyak ataupun sedikit dapat diterima. Karl Barth berbuat demikian pada waktu ia mengesampingkan pertanyaan apakah si ular di Taman Eden itu berbicara atau tidak sebab dia menganggapnya tidak sepenting apa yang dikatakan si ular itu.

              Bultmann juga melakukannya waktu di satu segi lain ia menerimanya karena pemahaman eksistensial tentang diri yang terdapat di dalamnya. Begitupun Moltmann di satu segi mencela pandangan eskatologi Kristen yang tradisional yaitu gereja menantikan hadirnya Tuhan yang telah bangkit dalam sejarah di masa mendatang, namun di segi lain ia berbicara tentang gereja yang berorientasi pada masa mendatang. John Robinson juga di satu pihak menolak konsep surga sebagai suatu “tempat yang di atas sana”, namun di pihak lain menegaskan suatu dimensi baru bagi kehidupan sebagai “keberadaan yang bermakna” dan Allah sebagai “dasar keberadaan”.

              Berbagai teologi yang masuk kategori Teologi Kontemporer tidak muncul dengan tiba-tiba, dan tidak sepenuhnya merupakan produk dari perkembangan dunia, gereja dan teologi pada abad ke-20 hingga abag ke-21 sekarang ini. Berbagai peristiwa dan perkembangan di dunia yang khas pada periode ini, yang ikut melatarbelakangi dan menjadi konteks berteologi, antara lain Perang Dunia I (1914-18) dan II (1939-45), merdekanya sejumlah negara-negara kolonialis. Kian merajanya kapitalisme dan ekonomi neo-liberal, dan semakin intensifnya interaksi antarumat beragama.

              Kita perlu mencatat beberapa perkembangan yang menonjol dan signifikan antara lain Reformasi gereja abad ke-16, Rasionalisme dan Pencerahahan sejak abad ke-17 hingga ke-19 yang banyak tercermin pada Teologi Modern atau Teologi Liberal. Walaupun pemikiran Kristen pada abad ke-20, terutama pada parohan kedua, telah menempuh arah baru, banyak pertanyaan yang sudah muncul pada masa Pencerahan, dan semakin didalami pada abad ke-19, masih terus merupakan isu vital hingga masa kini. Tokoh-tokoh Teologi Modern antara lain Immanuel Kant, D.F.Strauss, J.Voltaire, J.J.Rousseau, F.D.E.Schleirmacher, Albrecht Ritschl, Adolf von Harnack, dan Soren Kierkegaard.

              Dari beberapa pandangan Teologi tersebut muncullah yang namanya Teologi Feminis. Menarik karena Teologi Feminis ini, atau istilah feminisme ini seperti halnya kapitalisme adalah a modern word atau sebuah kata yang muncul sebagai produk zaman modern. Sedangkan arti kata itu sendiri berbicara tentang suatu ideologi yang berisi sejumlah gagasan yang dipakai untuk memperjuangkan perubahan sosial (Russel 1993,2). Sebutan feminisme menjadi kata kunci untuk mengekspresikan gelombang kedua dari Gerakan perempuan yang muncul pada akhir tahun 1960-an. Pada gelombang pertama di akhir abad ke-19 dan di awal abad ke-20, isu-isu perjuangan meliputi pembaharuan posisi perempuan di masyarakat, emansipasi, kemandirian ekonomi, dan kerja. Gelombang kedua mencakup pokok-pokok persoalan seperti perjuangan untuk merombak budaya dan aturan dari masyarakat yang dikuasai oleh sistem patriarkatisme; yaitu usaha untuk memunculkan kesadaran mengenai dampak-dampak berbahaya atau bencana dari pemikiran dualism, dan keinginan mengikuti prinsip-prinsip perempuan daripada prinsip-prinsip laki-laki (Moltman-Wendel et al.2002, 471).

Selayang Pandang Teologi Feminis

              Sumber-sumber yang menyumbang bagi Gerakan perempuan pada gelombang kedua di Amerika Utara dan Eropa antara lain adalah adanya dorongan dari Konsili Vatikan II agar para Teolog Katolik merespons the signs of the times; inspirasi teologi politik dari Jurgen Moltmann, Johann Baptist Metz, James Cone; dan usaha para teolog pembebasan untuk “doing theology from the underside of history”. Secara internal, Rosemary Radford Ruether mengatakan bahwa factor yang sangat penting di akhir tahun 1960-an adalah adanya kondisi sosial yang memunculkan kesadaran dalam diri perempuan yang dipaparkan memengaruhi munculnya teologi feminisme di Amerika Utara dan Eropa.

              Tahun 1980-an muncullah womanist theology sebagai kritik terhadap teolog feminis kulit putih di Amerika Utara, karena mereka tidak berjuang bagi perempuan berwarna kulit lain, khususnya perempuan kulit hitam keturunan campuran Afrika-Amerika, yang tinggal di Amerika maupun yang tinggal tersebar di negara-negara lain. Sedangkan gerakan perempuan di Asia secara organisasi dan oikumene baru muncul di akhir tahun 1970-an dan teologi feminis Asia mulai berkembang kemudian di awal tahun 1980-an.

              Meski pemicu utama teologi feminis di zaman modern adalah gerakan perempuan di Amerika Utara dan Eropa, namun ini tidak berarti bahwa kitab oleh melupakan catatan sejarah – apa yang disebut Ruether sebagai proto and early feminist theological writings – tentang adanya warisan perjuangan perempuan di masa lalu, yang dituangkan dalam pemikiran teologi mereka. Munculnya gerakan perempuan dan Teologi Feminis menunjukkan adanya kesadaran kritis perempuan. Perempuan berjuang melawan masyarakat patriarkat yang disokong oleh budaya dan agama. Perempuan berjuang demi harga diri, keadilan, dan pembebasan mereka. Perempuan menghendaki partisipasi setara antara mereka dan laki-laki, baik di gereja maupun di masyarakat.

Pembahasan  

              Di dalam Teologi Feminis, terlihat ada usaha merekonstruksi paradigma yang baru tentang jender, karena hal itu mutlak dibutuhkan dalam Teologi Feminis. Analisa dan kritik Teologi Feminis terhadap jender dalam masyarakat patriarkat sentris dan androsentris membantu juga dalam mengkonsepkan interaksi di antara seksisme, rasisme, klasisme (classim) dan militer kolonialisme.

              Teologi Feminis berusaha merekonstruksi semua simbol-simbol dasar dari keseluruhan sistem teologi Kristen seperti doktrin tentang Allah, manusia sebagai laki-laki dan perempuan, ciptaan, dosa, penebusan, pribadi dan karya Kristus, Gereja, dan pengharapan masa depan atau eskatologi. Tema-tema misogynist  serta laki-laki dalam tradisi teologi Kristen dilihat dalam perspektif inklusif jender dan egaliter. Teologi Feminis juga memunculkan tema-tema egalitarian di dalam kitab suci dan tradisi Kristen, agar dapat membangun pemikiran baru dalam seluruh sistem teologi.

              Bagi Teologi Feminis, tidak semua simbol, baik dari agama-agama maupun sosial budaya, kontra terhadap perempuan. Masih banyak symbol berbicara mengenai nilaai-nilai keharmonisan, keadilan dan egalitarian. Teologi Feminis terbuka terhadap simbol-simbol dan juga nilai-nilai kebenaran lainnya, meskipun semuanya itu berasal dari luar kitab suci Kristen. Kwok Pui Lan, seorang Teolog Feminis Asia, berpendapat bahwa sekarang ini orang-orang Kristen di Cina mempunyai kesadaran baru tentang nilai-nilai agung di dalam sastra-sastra mereka. Mereka mempelajari dan mengambil berbagai kebenaran dari kitab-kitab satra kuno dan juga kitab-kitab suci lainnya. Konstruksi Teologi Feminis ini adalah kritik terhadap apa yang disebut ortodoksi – penekanan pada otoritas kitab suci – dalam sistem teologi lama; dan dengan demikian, terbuka juga untuk dialog-dialog antar iman yang dapat mengokohkan perjuangan perempuan Bersama di tengah-tengah konteks plural ini.

              Teologi Feminis, yang jelas harus melewati prinsip-prinsip kritis, sebagaimana ditegaskan oleh Ruether, yaitu mesti mempromosikan kepenuhan perempuan sebagai manusia. Secara teologis, prinsip kritis itu menegaskan bahwa apa saja yang mengurangi atau menolak kepenuhan itu harus dianggap tidak merefleksikan..”the divine or an authentic relation to the divine, or to reflect the authentic nature things, or to be  the message or work of an authentic redeemer or a community of redemption”. Dan sebaliknya”of a the Holy, it does reflect true relation to the divine; is the true nature of things, the authentic message of redemption and the mission of redemptive community”.

              Jadi prinsip-prinsip kritis ini menjadikan Teologi Feminis mempunyai kriteria untuk membedakan simbolisasi dari dominasi dan kekuasaan yang menindas. Prinsip-prinsip itu juga melakukan pencarian pesan-pesan kenabian untuk menegakkan keadilan dan mengafirmasi hubungan timbal balik antar manusia. Usaha yang mau dicapai adalah penebusan dari yang jahat terhadap kelanggengan ketidakadilan. Keunikan Teologi Feminis ini terletak pada pengalaman perempuan. Pengalama itu juga sebagai titik berangkat Teolog Feminis dalam berteologi.

              Ada dua kutub aliran dalam mengartikan pengalaman perempuan, yakni pengalaman perempuan feminis (women’s feminist experience) dan pengalaman perempuan tradisional (woman’s traditional experience). Model pertama yang berbicara tentang pengalaman pembebasan itu sendiri melawan penindasan, budaya, dan Lembaga seksis, dan bergerak menuju kemerdekaan bagi perempuan. Nilai positif dari model ini adalah memampukan perempuan menggalang solidaritas dengan kelompok-kelompok tertindas lainnya. Model kedua berbicara soal pernikahan dan keibuan dalam diri perempuan, atau yang disebut women’s body experience. Isu-isu yang dibahas dalam model ini meliputi menstruasi, kehamilan, masa menyusui anak atau laktasi, berhentinya menstruasi atau menopause, dan mengasosiasikan  perempuan tradisional dengan alam.

              Tambahan, apapun yang dipertimbangkan sebagai kefeminian atau feminisme, seperti intuisi, ekspresi perasaan, dan dimensi relasional personal perempuan, juga  menjadi topik-topik diskusi dalam model ini. Para teolog feminis dari model ini menunjukkan women’s body experience dan feminine dalam sebuah visi holistic feminis yang bertujuan membebaskan perempuan yang teralienasi selama ini dalam budaya dan teologi laki-laki. Model ini juga menegaskan “creating positive attitudes toward the female body is essential for woman’s liberations and that anything common to many woman should be positively valued from a feminist perpective.

              Teologi Feminis juga memberi nilai positif karena berbicara secara kreatif tentang teologi tubuh perempuan melalui menarik gambar-gambar, model-model, pemahaman-pemahaman mendalam (insights) dan konsep-konsep dari tubuh perempuan untuk menyediakan analogi-analogi tentang Allah atau hubungan Allah dengan dunia ini. Misalnya Allah digambarkan seperti ibu yang berelasi dengan anak-anaknya (umat-Nya) malalui tindakan-Nya mengandung dan melahirkan (Ul.32:18) dan menyusui serta memberi makan (Yes.49:15; Rut 1:20-21). Teologi Tubuh juga menyediakan analogi-analogi hubungan antara Allah dengan dunia ini, dan oleh para teolog ekofeminis analogi-analogi itu dipakai untuk menaruh perhatian pada isu-isu krisis ekonomi dan bahaya nuklir. Mereka menganalogikan dunia ini sebagai tubuh Allah, karena dunia dilahirkan dan diberi kehidupan oleh Allah sebagai ibu yang mencipta dan memelihara. Oleh karena itu, segala macam perusakan terhadap alam adalah Tindakan yang melukai dan menyakiti tubuh Allah.

              Titik berangkat metode Teologi Feminis adalah pengalaman perempuan, dan itu dikaitkan dengan proses hermeneutik yang menuju kepada pemulihan (recovery) dan interpretasi ulang (reinterpretation) kitab suci Kristen dan tradisi. Ruether mengatakan bahwa proses itu meliputi tiga aspek yang saling berinteraksi: (1) critique of misogyny and androcenrism in the biblical and theological tradition; (2) recovery of alternative, prophetic, egalitarian traditions; and (3) re-envisioning all the theological symbols in an egalitarian, justice-making way.

              Teologi Feminis menyadari bahwa keseluruhan kitab suci adalah androsentris. Menegaskan bahwa teks-teks kitab suci itu tidak misogynist, namun dalam lensa budaya laki-laki menjadi misogynist. Tujuan Gerakan feminis ini bukan sekadar mencapai kemanusiaan utuh perempuan-karena arti kemanusiaan selama ini telah didefinisikan oleh laki-laki-tetapi afirmasi diri religious perempuan, kuasa dan pembebasan dari semua alienasi patriarkat, marjinalisasi, dan penindasan.

              Berkaitan dengan metode feminisme, Mary Daly memperingatkan para teolog feminis untuk berhati-hati dalam menggunakan metode feminisme mereka. Ia memperingatkan bahaya apa yang ia sebut sebagai methodolatry sebagai sebuah kerangka opini tradisional dan tingkah laku yang tidak mau berubah, yang menempatkan perempuan sebagai nondata and their questions nonquestions.

              Teologi feminis menaruh perhatian kepada penindasan perempuan lintas budaya, yang terjadi baik secara lokal maupun global. Sedangkan hubungannya dengan requeering sexuality, teologi feminis – terutama yang radikal dan liberal – setuju dengan pendapat para penganut queer bahwa seksualitas tidak dapat dibatasi pada normalitas binerisme dengan konsepnya yang baku tentang heteroseksualitas. Oleh karena itu, adanya praktik homoseksualitas merupakan bukti bahwa pembakuan terhadap konsep normalitas binerisme dan heteroseksualitas adalah keliru. Pembakuan tersebut bisa dikategorikan  dalam dosa sexisme dalam perspektif teologi feminis. Pandangan Teologi Feminis menurut Queer tentang homoseksualitas menggoncangkan teologi konservatif tentang seksualitas dan konsep pernikahan heteroseksual.

              Pandangan Teologi Feminis ini sampai sekarang, konsepnya ‘masih sulit’ diterima oleh gereja dan masyarakat. Di masyarakat Indonesia yang religious dan patriarkat, usulan terhadap pernikahan sejenis, dan usaha merobak pandangan tentang normalitas binerisme pasti akan ditentang dengan sangat kuat.

Kesimpulan

              Teologi Feminis adalah teologi yang kreatif dan inovatif. Pengalaman perempuan dieksplorasi sedemikian rupa melalui Analisa dan refleksi teologis yang beragam dan mendalam serta dengan bantuan berbagai disiplin ilmu. Teologi ini tidak saja memunculkan banyak pandangan yang baru, melainkan juga memiliki kekuatan dalam praksisnya. Teologi ini menggoncangkan pandangan konservatif yang ada selama ini, karena merekonstruksi simbol-simbol patriarkat dan memunculkan perjuangan perempuan secara sosial politik dalam konteks gereja dan masyarakat.